Rabu, 08 Mei 2013

Asal Usul Adonara


SEJARAH ADONARA
                                    Gunung Boleng di Pulau Adonara



     Adonara adalah sebuah pulau kecil yang cukup subur di ujung timur pulau flores.
SIAPAKAH nenek moyang orang Adonara?Sesuai penuturan adat turun temurun, sebagaimana dikemukakan tokoh masyarakat Adonara, H Syamsudin Abdullah (75).
Orang asli Adonara adalah turunan seorang wanita yang bernama Sedo Lepan.Wanita ini adalah manusia primitif paling pertama yang menghuni Pulau Adonara.Tubuhnya ditumbuhi bulu lebat.Wanitan pertama ini muncul bersamaan dengan timbulnya gunung Boleng.
    Pada suatu saat terjadilah suatu keajaiban yang luar biasa dimana tubuh Sedo Lepan ini "pecah" dan keluarlah seorang wanita lagi yang kemudian dikenal dengan namaKewae Sedo Bolen. Saat itu, di Pulau Adonara belum ada manusia lain selain wanita ini. Selama bertahun-tahun ia hidup sendirian di lereng Ile (gunung) Boleng. Kemudian suatu ketika, datanglah seorang laki-laki dari pantai selatan Pulau Lembata yang bernama Kelake Ado Pehan.Ia diusir dari Lembata karena dituduh sebagai seorang suanggi yang menyebabkan meletusnya Gunung Adowojo.Ia lari dengan menggunakan sebuah perahu yang terbuat dari sebatang kelapa dan terdampar di selatan pulau Adonara.
.

Singkat kisah, Kelake Ado Pehan kemudian bertemu dengan Kewae Sedo Bolen di puncak Ile Boleng sehingga keduanya menikah. Dari pernikahan kedua manusia pertama di Pulau Adonara itu, kemudian lahirlah tujuh putra yakni Lado Ipa Jarangyang( keturunannya ada di Boleng), Mado Paling Tale (keturunannya ada di Doken), Beda Geri Niha (keturunannya ada di Nihaona), Duli LedanLabi (keturunannya di Lewoduli), Kia Kara Bau (keturunannya ada di Wokablolon-Kiwang Ona), Kia Lali Tokan (keturunannya ada di Lewobelek) dan Sue BukuToran yang (keturunannya ada di Lewojawa-Lamahala.
Nama Adonara terdapat dua pengertian.Adonara berasal dari kata "Ado" dan "Nara". Ado ini mengingatkan orang Adonara akan pria pertama yang hidup di pulau itu yakni Kelake AdoPehan.Sedangkan "Nara" artinya kampung, bangsa, kaum kerabat.Jadi Adonara artinya Ado punya kampung, Ado punya suku bangsa, Ado punya keturunan dan kaum kerabat.

Adonara juga berasal dari kata Adoknara."Adok" yang yang berarti mengadu domba dan "nara" yang artinya kampung, suku bangsa, kaum kerabat, golongan atau Puak.Jadi Adoknara artinya mengadudomba warga antarkampung, suku bangsa, kaum kerabat.Pengertian ini merujuk pada watak khas orang Adonara yang "gemar" berperang. Jika hendak berperang, maka para pihak akan menghubungi "nara" yakni keluarga, saudara, kaum kerabat di kampung lainnya agar memihak kepada mereka dalam perang tanding.
Adonara juga sering dikaitkan dengan adu darah, yakni perang tanding yang terjadi di pulau itu."Dulu di Adonara dan Lembata masih dikenal dengan istilah perang antara Paji dan Demong.Dimana kelompok Demong berasal dari Lewopoti. Lewoleba, Tana Boleng, Horuhura, Lewomang, Wollo dan Baipito.Sementara kelompok Paji berasal dari Menanga, Lamahala, Lamakera, Lebala dan Watampao.
Apa pun pengertiannya saat ini masih sering kita dengar pertikaian berdarah di Adonara. Masalah tanah terutama menjadi pemicu terjadinya perang tanding. Watak menyelesaikan sengketa tanah dengan cara kekerasan ini - sesuai ceritra rakyat - disebabkan nenek moyang orang Adonara ditempa dengan kehidupan yang keras, dimana peristiwa pertumpahan darah sudah merupakan hal biasa.
Seorang tokoh muda asal Lembata, Muhamad Sengnama, mengatakan, anggapan bahwa orang Adonara sampai saat ini masih identik dengan sifat-sifat keras dan selalu ingin saling membunuh itu tidak benar.Orang Adonara tidak segan-segan melakukan tindak kekerasan bahkan sampai membunuh kalau ada masalah yang menyangkut hal-hal prinsip semisal harkat dan harga diri pribadi, suku dan kampung.
"Tapi sekarang di Adonara sudah banyak masyarakat terpelajar.Banyak orang pintar di NTT bahkan Indonesia yang berasal dari Adonara. Sekarang ini yang harus dilakukan oleh orang Adonara yakni bagaimana menghilangkan image orang luar tentang perilaku keras itu,"
ASAL USUL MANUSIA ADONARA

Menurut penuturan sesepuh adat Ile Boleng yang ada di desa Boleng (Lamanele Atawatan), Lamanele, Lamanele Bawah (Nobo) dan Lama Bajung, bahwa antara Pati Golo dan Ado Pehang merupakan dua saudara kandung yang datang dengan berlayar dari daerah Rera Gere (timur). Keduanya mendapat musibah di selat Boleng, mengakibatkan Ado Pehang terdampar di Lembata, tepatnya wilayah Waibaja Loang. Sementara adenya Pati Golo terbawa arus dan terdampar di Solor (daerah sekitar Pamangkayo depan Kota Larantuka sekarang. Dari Solor Pati Golo Melihat cahaya api yang muncul di atas puncak Ile Mandiri.
Dengan keahlian yang dimiliki, Pati Golo membuat perahu untuk menyeberang ke Larantuka, dan terus menyusuri kaki gunung Ile Mandiri menuju sumber api yang dilihatnya. Dan bertemulah dengan seorang putri Ile Mandiri yang merupakan titisan Rera Wulan yang kelak menjadi isterinya.Pati Golo memiliki sifat kepemimpin, walaupun dia adalah adik dari Ado Pehang Beda.Maka Jadilah raja Pati golo yang bergelar Arakiang merupakan pengakuan dari kerajaan di Sulawesi.Pati golo dan isterinya putri titisan Rera Wulan Ile Mandiri (Watowele) beranak pinak dan menurunkan raja-raja lainnya di Lamaholot yang dikenal dengan clan (suku) Demong.
Sebaliknya, Ado (Pehang) Beda yang terdampar di Waibaja (Loang) mengembara ke pedalaman Lembata. Dalam pengembaraan, menyusuri sungai Waibaja sampai ke pertengahan Lembata, beliau tidak menjumpai seorang manusia, di hulu sungai Waibaja, atau orang pedalaman Lembata (Boto, Atawuwur dan sekitarnya) menyebut Wai Raja, Ado Pehang Beda menanamkan sebatang pohon cendana, sebagai batas perjalanannya (katanya hingga kini masih ada).
Selanjutnya Ado Pehang beda kembali lagi ke Waibaja. Dan di sinilah dia melihat adanya cahaya api di puncak Ile Boleng. Dengan kemampuan yang dimiliki, Ado Pehang (Beda) membuat perahu dan menyeberang ke Adonara.Dalam penyeberangan Ado Pehang mendarat di sebuah selat kecil yang dikenal sampai sekarang dengan sebutan Wai Tolang, di bawah desa Tanah Boleng sekarang. Daerah yang penuh batu tidak menghalanginya untuk menemukan sumber cahaya api yang ada di atas gunung. Akhirnya dia menjumpai suatu tempat yang sangat bersih di bawah sebatang pohon yang sangat rindang.
Singkat cerita, ditempat inilah Ado Pehang bertemu dengan Sedo Boleng yang merupakan putri titisan Rera Wulan Ile Boleng. Atas ijin dan restu Rewa Wulan, Tanah Ekan keduanya menjadi suami istri, yang kelak disebut klake (blake) Ado Pehang Beda dan Kwae sedo Boleng). Keduanya juga beranak pinak hingga menurunkan clan (suku Paji).
Turunan klake Ado Pehang dan Kwae Sedo Boleng merupakan turunan Rae Kbelan (Anak Wruin) maka dalam perkembangannya mereka tidak mau dikuasai oleh turunan raja Pati Golo yang dianggap Rae Rabe Arik.Kelangsungan beranak pinak Klake Ado Pehang dan Kwae Sedo Boleng agaklah unik.Mereka memiliki keberanian yang mumpuni tetapi tidak mempunyai jiwa kepemimpin pemersatu, namun tetap hidup dalam keakraban yang kental.Anak pinak Pehang Beda akhir hidup dengan bekerja sebagai petani dan mengolah tanah hingga Wai Tolang tempat pendaratan Ado Pehang pertama kali.
Dari sini sebagian dari mereka menetap di pesisir atau lebih dekat dengan laut yang dikenal dengan istilah ata watan dan yang tetap dipedalamanan disebut Ata Kiwang (bukan Islam dan katolik).Perkembangan pelayaran semakin ramai, membuat manusia Ata Watan sering berhubungan dengan pendatang dari sina Jawa, Ternate Tidore dan Sulawesi. Karena cara hidup yang berbeda membuat Ata Watan pindah lagi ke pedalaman, kelompok ini akhirnya menyebar membentuk Lewo Tanah Boleng, Lamawolo, Lamahelang, Lewo Keleng, dan yang masih di puncak Ile Boleng turun dan menetap di Haru Bala, Nobo, dan agak kevutara menetap di Lama Bajung.
Manusia Ata Watan yang bisa berbaur dengan pendatang akhirnya pindah ke Boleng yang dianggap tempat yang cukup strategis untuk berlabuh perahu, juga berlindung.Penyebaran anak pinak Ado Pehang tidak sedikitpun mencerai pisahkan tali persaudaraan mereka hingga kini, karena setiap pesta budaya adat mereka selalu bersatu hingga kini.
Semakin ramainya hubungan dengan dunia luar terutama dari Ternate, Tidore dari timur serta sina Jawa dan Sulawesi dari barat dan utara membuat mereka mulai mengenal cara memimpin dan membentuk raja-raja kecil. Misalnya ada yang menjadi Raja Lama Hala, Raja Lama Kera, dan raja Terong (kerabat) sedangkan Raja Menaga, Lohayong merupakan turunan dari Pati Golo.
Sementara Turunan Ado Pati yang ada di Lamanele (Lamanele, Nobo dan Boleng (tetap dianggap Ata Kiwang) karena masih tetap berhungan erat dengan orang pedalaman tetap hidup damai dalam kesatuan adat dan budaya tradisional (perubahan dari adat budaya primitif) tetap menjadi ata kebelan dan tidak menjadi wilayah kekuasaan Raja Lamahala, Lamakera, Witihama dan raja-raja lainnya. Manusia Lamanela atau yang disebut manusia Ile Ae (depan gunung) tetap dianggap ata kebelan oleh raja-raja sekitarnya, baik raja-raja yang dikenal dengan sebutan Solor Watan Lema, maupun Raja Witi Hama, Adonara dan Sagu.
Kebesaran Ata Kebelan Lama Nele disebut Ata Kiwang termasuk Boleng bisa dibuktikan dengan perasasti sejarah hingga saat ini, seperti:
1. Mendamaikan/menghentikan perang antara Raja Lama Hala dan Raja Lama Kera. Peperangan ini tidak bisa didamaikan oleh raja raja dari turunan anak pinak Pati Golo, karena mereka merasa yang berperang adalah Ata Kebelan.dan mereka menyerahkan sepenuhnya kepada Kebelan Lamanele.Bukti sejarah hingga kini bisa disaksikan dengan dua buah benteng dari batu yang berdiri kokoh mengelilingi desa boleng yang dibangun oleh raja lamakera dan yang mengelilingi desa Lamanele Reren (sekarang Nobo) yang dibangun oleh Raja Lamahala.
2. Bukti prasasti lainnya adalah benda berbentuk naga yang terbuat dari emas tanah serta benda2 kuno lainnya yang masih tersimpan rapi di rumah adat Lamanele Reren (Nobo) merupakan hadiah dari para pendatang buat pembesar Lamanele walaupun bukan raja.
3. Atas persetujuan sesepuh adat Lamanele Reren dan Lamanele Blolon, sesepuh Boleng bisa menghentikan perang antara Paji dan Demong, sehingga terciptalah nama Adonara oleh anak pinak Pati Golo, bahwa pulau yang ada di depan Larantuka adalah milik Ado yang merupakan saudara dari Pati Golo. Ado adalah Ado Pehang sementara Nara adalah saudara.
4. Kehebatan manusia Lamanele tidak hanya di Adonara, tetapi sampai ke Lembata dan mampu meredam terjadinya peperangan di Lembata, sebagai hadianya, tanah di pesisir Wai Jarang hingga Wai Baja diserahkan kepada orang-orang Lamanela Ata Kiwan maupun Ata Watan. Kepemilikan tanah di Wai Jaran, Wewan Belan, Kwaka, Wai Baja di kabupaten Lembata hingga kini menjadi milik anak pinak Ado Pehang yaitu (orang Boleng di Wai Jarang, Wewan Belan, Wai Baja) sementara orang Lamanele Reren (Nobo) menguasai tanah di Kwaka.
Itulah sekelumit kisah orang yang saya dengar dari orang tuaku almarhum Bonto Ata Boleng, dan bapa Belan Gaen Roma Boli, yang merupakan anak cucu dari seorang tua yang beranak Asan Boleng yang merupakan teman akbar Raja Molo Gong.

PEMERINTAHAN
Adonara sendiri sebenarnya adalah sebuah pulau yang terletak di kepulauan Nusa Tenggara. Yakni disebelah timur pulau flores. Luas wilayahnya 509 km2 dan titik tertingginya 1.676 m. pulau ini dibatasi oleh laut flores disebelah utara, selat solor diselatan (memisahkan dengan pulau solor) serta selat Lowotobi di barat (memisahkan dengan pulau flores).
Secara administrative, pulau Adonara termasuk wilayah kabupaten flores timur, provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Adonara merupakan satu diantara dua pulau utama pada kepulauan di wilayah Kabupaten flores timur. Awalnya terdiri dari 2 kecamatan yang kemudian dikembangkan menjadi 7 kecamatan. Adonara dahulu merupakan  sebuah kerajaan yang didirikan pada tahun 1660 sampai saat sekarang Adonara terus berbenah baik dalam infrastruktur dan prasarana yang ada didaerahnya.
PARIWISATA
Pesona wisata budaya menjadi andalan dari pulau yang satu ini karena sampai dengan saat sekarang dimana refolusi teknologi tengah melanda dunia.Adonara masih berpegang teguh pada norma-norma dan adat istiadat.Sehingga tidak mengherankan kalau Adonara menjadi daerah tujuan wisata dari wisatawan mancanegara dan domestik.Tempat wisata yang sering dijadikan sebagai referensi bagi pelancong adalah desa-desa yang mempunyai basis budaya seperti rumah-rumah adat.Upacara adat seperti upacara pemanngilan hujan pada masa menjelang musim tanam upacara PA’O NUBA NARA, dan masih banyak yang lainnya.Selain wisata budaya Adonara mempunyai tempat-tempat wisata seperti danau KOTA KAYA dan wisata pantai. Suatu pesona wisata yang masih sangat perawan dengan memiliki pantai yang sangat eksotis, hamaparan pasir putih sepanjang mata memandang dengan deburan ombak yang memicu adrenalin bagi mereka yang senang surfing. Untuk akses ke Adonara sendiri, anda cukup menyeberang kurang lebih 30 menit dengan menggunakan kapal motor laut dari ibukota kabupaten flores timur, larantuka.

44 komentar:

  1. keren.
    jadi tau asal usul kampung sendiri :)
    sebelumnya belum pernah dengar.

    BalasHapus
  2. mantap...sejarah adonara gag juga he

    BalasHapus
  3. Luar biasa,,,bangga jd org Adonara

    BalasHapus
  4. kerren sekali....sya bangga menjadi orng adonara

    BalasHapus
  5. kerren sekali....sya bangga menjadi orng adonara

    BalasHapus
  6. need this one. thx for the history. :)

    BalasHapus
  7. Akirx tau jga nenek moyang adonara keren jln critax aq prtisipsi dngn anda

    BalasHapus
  8. nice..
    akhirnya tau juga asal usul ayah ku :)

    BalasHapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  10. manatap �� gak salah kalau saya lahir di adonara ��������

    BalasHapus
  11. Masih kurang kayanya.
    Sejarah menurut presepsi anda harus d lengkapi lg pa.
    Maf, bkn nda prcya. Tp kurang lengkap pa.

    BalasHapus
  12. Z senang baca artikelnya. Meskipun bukan suku z, tp z kagum loh. Bangga bisa menginjakkan kaki di Flores dan senang bisa tau sejarah sera adat istiadatnya...

    BalasHapus
  13. Ada dua versi ! yg pertama sedikit memvonis, ada peristiwa pengusiran ! Nenek moyang kami tdk diusir, dia memiliki kekuatan ghaib yg bisa mengutuk ! Kenapa sllu ada cerita dia diusir dr Lembata ? kehadiran Ado Pehan Beda di Lembata saat itu, Lembata belum berpenghuni. Lalu siapakah gerangan yang mengusirnya ? Tapi baiklah...sejarah sering dibengkokan untuk kepentingan melemahkan musuh !!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat ama.kalau dr cerita ini.beliau ke lembata , waktu itu dsana blm berpenghuni.lalu yg mengusirnya itu siapa?

      Hapus
  14. Sy perlukan bantuan utk beberapa hal, for the one who born or stay at Adonara, kindly contact/whatsapp me (+60146231426) Try to reach my origin.. so, really need help here..

    BalasHapus
  15. Bolehh boleeeehh makasih ama

    BalasHapus
  16. kayanya kita harus perbincangkan lagi kawan...karena saya masih kurang sepakat....sepertinya sebuah dongeng yang kurang ilmiah....bukan berdebat tapi mencari sejarah yang bisa memberikan bukti sejarah...senareko

    BalasHapus
  17. Ahaha kalau Kelake Adopehan Pehan adalah pendatang, berarti kesimpulannya orang Adonara itu tdk ada suku asli dong...??

    BalasHapus
  18. Kritik , usul saran memang sangat diperlukan untk penyempurnaan sebuah sejarah. Tpi alangkah baiknya kalau kita sama2 menyempurnakan sejarah kita bukan hanya mengkritik tpi jga masukan2 baru sehingga akhirnya sejarah lamaholot dan adonara khususnya bisa dapat diterima oleh semua pihak. Tks

    BalasHapus
  19. Makanya kalau teman2 punya cerita sejarah dari sumber yang lain maka ceritrakanlah itu semua. Jangan kita hanya mengklaim sebuah ceritra sejarah itu tidak lengkap atau salah.alangkah baiknya kalau kita juga berbagi cerita dari versi yg berbeda beda itu, sehingga kita harapkan pda satu generasi nanti mereka dapat bercerita ttg sejarah lamaholot dan adonara khususnya dari satu cerita sejarah dan satu versi yg sama. Tks

    BalasHapus
  20. Coba penulis mulai dari sebuah ungkapan,bahwa buta betwk walang mara,tadon tanah getto tanah narhan nuha nebon,,,cerita di atas itu maaf bukan awal mula tanah adonara,,,,

    BalasHapus
  21. Saya kurang tau sejarah .tapi kalau sya lihat tulisan ini agak singkat...dan sepertinya ini bukan bukan dr Awal...

    BalasHapus
  22. Saya bukan asli Adonara....tapi saya sangat respect dengan Adonara bukan karena sejarah nya tapi karena kerukunan umat saat ini dan terlebih Adonara ini sangat menghargai kaum wanita.salute for Adonara

    BalasHapus
  23. Dari sejarah di atas yang saya tangkap hnya mencritakan sejara untuk org di lereng gunung boleng
    Dan menyebar ke adonara timur lainnya, terus bagaimana dengn suku yg lainnya di adonara tenga dan barat mereka jga mempunyai nuba dan nobo di sana

    BalasHapus
  24. harus banyak menggali sejarah untuk saling melengkapi. Ketika membaca tulisan ini bila disandingkan dengan beberapa tulisan lain yang lain. Mohon kita saling mencari referensi lain stelah itu dibuat dalam sebuah tulisan lain yang lebih lengkap. Makasoh

    BalasHapus
  25. Terlalu banyak kisah mitologi bahkan bisa dikatakan menjadi dongeng bila menceritakan asal mula Lewo tanah suku ekan, contoh tulisan ini yg mesti dikritisi adalah munculnya Ina Sedo Lepan yang keberadaannya bersama Ile boleng, lalu dari tubuhnya uang pecah jadilah kewae Sedo bolen.
    Apakah kemudian generasi milenial ini harus menerima kebenaran kisah tersebut???
    Kenapa kita tidak menelusuri jejak keberadaannya Sedo LEPAN yang mungkin punya hubungan dengan tenggelamnya Pulau LEPAN & BATAN ....???

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju saudaraku.saya juga pernah dengar cerita dari orang terdahulu, `pulau lepan-batan yang didalamnya ada perkampungan Munaseli. pulau dan kampung ini tenggelam akibat air bah setelah itu baru muncul " Buta mete walan mara " dengan munculnya gunung baru dan manusia pertama ( titisan rera wulan ) di masing-masing pulau.maaf kalau salah. tapi cerita yang saya dengar seprti itu.

      Hapus
  26. Bangga jadi orang adonara

    BalasHapus
  27. Adonara ... Lewotana tercinta 😇 salam

    BalasHapus
  28. Trnyata org Adonara aslinya turunan Lembata..
    Like

    BalasHapus